• Tea Smallholders in Indonesia

    Report Tea Smallholders in Indonesia

     

    Indonesian tea producers normally fall into one of three categories, namely large state-owned plantations, large private plantations and smallholders. The first two categories are mainly export-oriented, while the smallholding sector mainly supply the domestic tea industry. In general terms, the tea smallholding sector holds the largest share in terms of production area, but at the same time it is lagging behind the two other producer categories in terms of productivity and quality. Recent development shows that the low productivity and poor quality of tea from smallholders could very well relate to the short supply to domestic tea industry, which has been growingly relying on import instead. Tea import increased from only 50 tons in 1996 to 8500 tons in 2008, according to estimate by Indonesia Tea Board.

    The above fact is a consequence that the long-neglected tea smallholding sector suffers from. In general, it development has been hampered by problems in infrastructure (transport and distribution), insufficient economic scale, lack of working capital, as well as poor promotional support and market access. Questions arise as to future sustainability of the tea smallholding sector.

    This tudy tries to portray the current state of the tea smallholding sector, looking into major issues it faces and seeking solutions to the problems in the context of supply chain. Research results are presented here to incite further discussion. Data and interpretation are open for correction and suggestions are welcomed.

  • Newsletter Newsletter Februari - Maret 2010

    CSR di Sektor Teh Indonesia

    Tidak semua perusahaan teh swasta yang berorientasi ekspor mengetahui tentang inisiatif-insiatif CSR. Sebagian besar ekportir teh di Indonesia hanya memperhatikan masalah kualitas dan harga teh. Hal ini terjadi karena ada beberapa buyer tidak memberikan persyaratan khusus mengenai CSR atau standar-standar sosial/lingkungan lainnya yang melekat pada produk yang mereka pesan, padahal perkembangan tren kedepan konsumen (buyer) akan lebih kritis untuk isu-isu tersebut.

    Istilah Corporate Social Responsibility (CSR) sudah mulai familiar oleh para pelaku bisnis di sektor teh Indonesia. Beberapa dari mereka lebih mengenal insiatif-insiatif CSR seperti Sertifikasi/standar, pendampingan/kemitraan dengan petani dan pemeliharaan lingkungan yang baik. Namun demikian, mekanisme-mekanisme ini baru dikenal oleh kalangan tertentu saja seperti dewan, asosiasi, lembaga, organisasi dan perusahaan-perusahaan tertentu yang memiliki hubungan dagang dengan pasar luar negeri dan biasanya mengharuskan untuk memproduksi barang secara etis baik sosial maupun lingkungan (dengan kata lain ada tekanan dari buyer).

  • Booklet UTZ Certified

    Booklet Booklet UTZ Certified

    Apa itu UTZ CERTIFIED?

    UTZ CERTIFIED merupakan program sertifikasi terbesar di dunia yang menetapkan standar produksi dari sumber komoditas-komoditas pokok. UTZ CERTIFIED menekankan pada supply chain agribisnis yang berkelanjutan, meliputi praktek perkebunan yang baik, isu lingkungan dan sosial, keamanan pangan, peningkatan kualitas dan keterlacakan produk.

    Sedangkan UTZ CERTIFIED untuk teh adalah program pengembangan dari UTZ CERTIFIED untuk kopi yang telah berhasil di Amerika Latin, Asia dan Afrika dalam jangka waktu 5 tahun, dengan berdasar pada aturan pelaksanaan (code of conduct), sistem keterlacakan, verifikasi independen dan dukungan pada produsen.

  • Newsletter Newsletter Desember - Januari 2010

    Permintaan konsumen akan produk berkelanjutan telah menjadi tren global dan ada kecenderungan meningkat, sehingga kesinambungan skema standar dan sertifikasi merupakan respon logis dari permintaan konsumen untuk memastikan bahwa komoditas agribisnis yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan keberlanjutan ekonomi, sosial dan aspek lingkungan.

  • Newsletter Newsletter Oktober - November

    Sejak tahun 90an, berbagai standar mulai diberlakukan bagi produsen teh sebagai salah satu wujud permintaan pasar akan produk yang sehat dan aman. Beberapa standar muncul seperti ISO 9000 hingga ISO 14000, HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point), MRL (Maximum Residu Level) atau Good Manufacturing Practices (GMP). Standar tersebut harus dipenuhi jika produk kita mau dibeli oleh para buyer. Seiring perjalanannya, saat ini bermunculan pula badan badan sertifikasi yang menawarkan sertifikasi dengan latar belakang sama, yaitu memenuhi permintaan konsumen.

  • Newsletter Newsletter Agustus - September

    Para petani mempunyai peran yang cukup signifikan di sektor teh Indonesia karena pelaku usaha inilah yang mendominasi di dalam segi jumlah maupun luas area.

    Empat puluh tujuh persen luas area teh Indonesia dimiliki oleh para petani, dan keberadaannya mampu memberikan penghidupan bagi masyarakat sekitarnya khususnya sebagai pemetik dan pemelihara kebun yang mencapai 15,300 orang. Disamping itu, para petani juga telah menyumbangkan 314 milyar rupiah atau sekitar 30% dari total PDB di sector teh, mengembangkan pusat ekonomi baru di desa-desa untuk meningkatkan pembangunan ekonomi regional, membantu mencegah banjir dan tanah longsor dengan penanaman teh di lahan-lahan yang miring serta menjadi pioneer energi hijau melalui penggunaan energi yang dapat diperbaharui.

  • Halaman:
  • 1
  • 2